Senin, 02 Maret 2015
ISC Buka Lebar Peluang Tender Minyak Pertamina
JAKARTA - Anak usaha PT Pertamina Energy Trading Ltd (Petral), Integrated Supply Chain (ISC) membuka lebar bagi perusahaan baik National Oil Company (NOC) ataupun Multinational Oil Company (MOC) untuk mengikuti tender minyak.
"Mitra usaha saat ini kita sudah memiliki 130 perusahaan daftar mitra. Kita masih membuka dan menerima beberapa interest perusahaan dalam dan luar negeri. Kita terbuka," ujar Vice President ISC Daniel Purba di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Selasa (17/2/2015).
Dia menjelaskan, perusahaan yang berminat mengikuti proses tender dan menjadi mitra usaha ISC harus memenuhi beberapa kriteria, seperti mengirimkan mengenai detail perusahaan dan legal compliance usahanya.
"Ini juga untuk memanage risiko. Di sini pentingnya melakukan seleksi mitra usaha," imbuh dia.
Selain itu, sambung Daniel, perusahaan yang berminat juga harus memiliki track record aspek bisnis yang jelas, detail keuangan, hingga detail perbankan yang sebenarnya.
Untuk menyeleksi perusahaan peminat tender tersebut, ISC pun melibatkan perusahaan konsultan independen untuk mengecek perusahaan tersebut cukup kompatibel untuk mengikuti tender.
"Untuk yang existing juga kita mereview setiap tahun. Jangan-jangan ada perusahaan yang sudah tutup atau dilikuidasi," pungkasnya.
Laba Bersih Pertagas 2014 Naik 12%
JAKARTA - Di tengah kecenderungan menurunya kinerja bisnis sektor energi, PT Pertamina Gas (Pertagas) pada 2014 justru tumbuh signifikan dengan meraih laba bersih perusahaan sebesar USD178,7 juta, naik 12% dibanding 2013 sebesar USD158,4 juta.
Kenaikan laba perusahaan diperoleh dari kenaikan pendapatan usaha perusahaan pada 2014 sebesar USD698,6 juta, naik sebesar 12% dari 2013 sebesar USD615 juta.
"Pencapaian kinerja 2014 sangat luar biasa, di mana perusahaan berhasil membukukan angka psikologis laba bersih sebesar USD178,7 juta, selain berbagai prestasi dan penghargaan di lingkungan Pertamina, nasional dan internasional," jelas Presiden Direktur Pertagas Hendra Jaya di Jakarta, Rabu (25/2/2015).
Selain Kinerja finansial, Pertagas juga menunjukkan kinerja operasional membanggakan. Dari seluruh lini bisnis, hampir semuanya mengalami peningkatan. Volume niaga gas pada 2014 mencapai 40.979 BBTU meningkat 21% dari tahun sebelumnya 33.866 BBTU.
Sementara, lifting elpiji 2014 sebesar 385 ton/day meningkat 48% dari tahun sebelumnya sebesar 259 ton/day kemudian transportasi minyak (nett) pada 2014 mencapai 12.880 BOPD meningkat 4,2% dari tahun sebelumnya sebesar 12.352 BOPD.
Adapun kinerja investasi, pada 2014 Pertagas secara agresif mengembangkan berbagai proyek. Antara lain, proyek pipa gas Muara Karang-Muara Tawar, proyek pipanisasi Semarang-Gresik. Perkembangan proyek lain, pipanisasi Porong-Grati, dan pipanisasi Belawan-KIM-KEK.
Dua proyek yang baru saja rampung dan beroperasi adalah pipanisasi Arub-Belawan dan Arun Receiving & Regasification Terminal. Selain itu, pada 2014 Pertamina Gas juga menunjukkan kinerja sosial yang positif.
Pada tahun lalu, Pertagas melaksanakan program CSR dengan total lebih Rp3,5 miliar meliputi bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat serta donasi untuk bantuan sosial kemanusiaan di wilayah bencana.
"Salah satu bentuk CSR Pertagas saat ini adalah program Desa Binaan di Desa Tegalgede, Cikarang Selatan, Bekasi Jawa Barat," tutupnya.
source:sindonews
Pertamina Perkuat Pengembangan Vi-Gas
Hal itu diwujudkan dengan diresmikannya lima Stasiun Penyaluran Bahan Bakar (SPB) Vi-Gas yang terpusat di SPBU COCO 31.137.01 Gandaria, Jakarta Timur, Kamis (26/2/2015). Hadir dalam peresmian Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat.
Ahmad mengatakan, dengan diresmikannya lima SPB Vi-Vigas, kini Pertamina efektif mengoperasikan sebanyak 23 SPB Vi-Gas, di mana 18 unit beroperasi di Jabodetabek, tiga unit di Bali dan satu unit masing-masing di Bandung, Semarang dan Yogyakarta.
Beroperasinya lima SPB Vi-Gas diharapkan akan memperkuat pengembangan pasar Vi-Gas di Jakarta dan sekitarnya.
"Di samping itu, sekaligus mendukung program konversi BBM ke bahan bakar gas (BBG) di sektor transportasi yang digalakan oleh pemerintah. Dengan penggunaan Vi-Gas yang sangat ramah lingkungan, DKI Jakarta dapat mengurangi polusi udara yang berasal dari emisi kendaraan," kata dia.
Ahmad mengatakan, ke lima SPB Vi-Gas yang tersebar di Jakarta Barat dan Timur memiliki kapasitas penyimpanan sebanyak 6 metrik ton (MT) setara 11.800 liter.
Apabila kapasitas tersebut digunakan untuk pengisian angkutan umum maka bahan bakar Vi-Gas cukup untuk disalurkan kepada sekitar 500 unit kendaraan per hari.
Saat ini, Pertamina telah menyelesaikan pembangunan SPB Vi-Gas di Solo dan Surabaya. Tidak hanya itu, Pertamina juga berkomitmen akan mengoptimalkan jaringan SPBU Pertamina yang tersebar luas di seluruh Indonesia untuk mengembangkam SPB Vi-Gas.
"Khusus untuk bahan bakar Vi-Gas, pertumbuhan konsumsi telah meningkat rata-rata sekitar 40% per tahun dari semula 185 kl pada 2008 menjadi 1.000 kl pada 2013," terangnya.
Penggunaan LGV kini menempati urutan ketiga bahan bakar trasnportasi yang paling banyak dikonsumsi di dunia setelah gasoline dan diesel. Di seluruh dunia, LGV digunakan lebih dari 23 juta kendaraan dan tersedia di lebih dari 67.000 stasiun pengisian.
source:sindonews
Kementerian ESDM dan ISC Pertamina Ditantang Terbuka
Kementerian ESDM dan ISC Pertamina perlu menjelaskan lebih lanjut terkait proses tender minyak mentah, termasuk impor dari Sonangol.
Hal itu sebagaimana diutarakan Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Studies (IMES), Erwin Usman, di Jakarta, Rabu (28/1).
"Penting dijelaskan lebih dahulu oleh Menteri ESDM dan ISC Pertamina Daniel Purba, terkait perkembangan rencana kerjasama dengan Sonangol. Terutama isi perjanjian kerjasama, model kerjasama, serta untung rugi bagi Negara dengan pola kerjasama bisnis tersebut," terangnya.
Menurut Erwin, transparansi ini sangat penting bagi publik untuk disesuaikan dengan keterangan otoritas menteri ESDM atau ISC Pertamina sebelumnya. Misalnya terkait besaran diskon pembelian, kemampuan memenuhi kuota minyak, serta pihak-pihak yang dilibatkan dalam perjanjian.
Menurutnya, inti dari tender itu adalah proses transparan yang wajib ditempuh, serta mekanisme bisnisnya dipastikan tidak untuk merugikan negara. Sayang, yang terjadi malah sebaliknya, proses tender tersebut malah terkesan ditutup-tutupi.
"Karena jika itu diabaikan oleh Kementerian ESDM dan Pertamina, maka artinya spirit Nawacita, Trisakti dan Revolusi Mental diabaikan," pungkasnya.
source:RMOL
Petral Diubah Ke ISC, FITRA: Itu Sih Sama Saja
JAKARTA - Koordinator Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Uchok Sky Khadafi menilai perubahan peran dari Pertamina Energy Services Pte Ltd (Petral) ke Integrated Supply Chain (ISC) tidak ada yang berubah. Meski jual beli minyak di gantikan oleh ISC, namun Uchok mengungkapkan anak usaha Petral itu tidak akan mengubah keadaan.
"Perubahan tidak ada, hanya cakap nol," ujar Uchok dihubungi wartawan, Jumat (30/1/2015).
Uchok pun heran dengan sikap Menteri ESDM dan BUMN terkait pemberian hak jual beli minyak bumi ke dalam negeri. Padahal masyarakat sudah mendesak agar Petral dibubarkan.
"Padahal sudah ada desakan rakyat agar Petral di bubarkan, namun Menteri dan Pertamina hanya mengganti orang-orangnya," ungkap Uchok.
Dengan adanya ISC, Uchok menilai sistem Petral tetap dipelihara. Uchok yakin alasan ISC tetap di pertahankan karena sangat menguntungkan pihak-pihak yang terkait dengan mafia migas.
"Dengan kata lain mereka inilah yang menguasasi Migas di Indonesia,
Uchok menambahkan saat ini Pertamina menjadi perusahaan BUMN yang tidak efektif. Pasalnya Pertamina terlalu banyak bagi-bagi kekuasaan dalam memegang peranan minyak di dalam negeri dan membuang anggaran negara.
"Seolah-olah adanya ISC membuat Deputi-deputi Pertamina tidak ada gunanya, hanya membuang buang anggaran, dan jangan lupa argo dan gaji tetap jalan," kata Uchok.
source:TRIBUNNEWS.COM
JAKARTA – Tak kunjung diumumkannya pemenang tender minyak mentah PT Pertamina melalui Integrated Supply Chain (ISC) serta proses tender yang cenderung tak transparan, terus menuai kritik dari berbagai kalangan.
"Saya menangkap gelagat pemerintah ini hendak menjadikan BUMN sebagai lahan bancakan, khususnya Pertamina," kata pengamat ekonomi energi dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng dalam keterangan yang diterima, Jumat (30/1/2015).
Menurutnya, dugaan itu diperkuat dengan pembentukan Tim Reformasi Tata Kelola Migas oleh Menteri ESDM Sudirman Saidyang kemudian setelah dibentuk tim tersebut langsung mengumumkan pembubaran Petral.
Salamuddin mengatakan, tujuan pengkerdilan Petral hanyalah untuk mengganti importir yang konon kabarnya memiliki kedekatan dengan penguasa.
"Melokalisasi masalah migas hanya pada siapa yang melakukan impor telah menunjukan kesan bahwa menteri baru dan jajarannya hanya ingin mengganti importir. Alasan yang digunakan adalah adanya mafia dalam impor migas," katanya.
Kembali pada tak diumumkannya pemenang tender dan proses tender yang tak transparan dikatakan Salamuddin pemerintah telah mengabaikan prinsip good corporate governance (GCG).
Pasalnya tak dibeberkan ke publik jenis minyak apa saja yang diimpor, berapa harga yang ditawarkan, siapa saja peserta tender, lalu apakah mereka trader atau langsung penghasil minyak.
"Ada indikasi bahwa yang ikut tender adalah para trader. Padahal janji awal Tim Reformasi adalah menghindari melakukan impor melaui trader, melainkan langsung ke perusahaan minyak baik Multinational Oil Company maupun National Oil Company. Jika ini terjadi maka Sudirman Said dkk telah melakukan kebohongan publik," katanya.
source:TRIBUNNEWS.COM
Tender Minyak Mentah Pertamina Abaikan Tujuan Tim RTKM
JAKARTA – Proses tender minyak mentah PT Pertamina yang dilakukan Integrated Supply Chain (ISC) dibawah pimpinan Daniel Purba hingga saat ini belum juga diumumkan pemenangnya ke publik.
Bahkan dalam prosesnya pun baik ISC atau Pertamina terkesan tertutup dan tidak transparan.
Direktur Energy Wacth Indonesia, Ferdinand Hutahaeanmengatakan, ISC abaikan rekomendasi tim RTKM Faisal Basri yang menginginkan transparansi di sektor migas. Informasi yang beredar dalam Tender pengadaan Minyak jenis Azuri dan Qua Iboe-Nigeria masing-masing sebesar 2 juta barel telah di menangkan tanpa menggunakan penawaran harga terendah.
"Penting bagi ISC-Pertamina untuk melakukan transparansi atau keterbukaan informasi tentang pengadaan minyak. Saat ini ada 2 hal yang paling krusial untuk dibuka secara jujur ke publik, yaitu terkait tender minyak mentah perdana ISC dan perjanjian kerjasama dengan Sonangol," kata Ferdinand dalam keterangan pers yang diterima, Sabtu (31/1/2015).
Menurutnya, dua hal tersebut menjadi sangat penting karena akan menjadi barometer pertama bagi publik tentang kinerja ISC dan Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) yang dipimpin oleh Faisal Basri
Menurutnya, dua hal tersebut menjadi sangat penting karena akan menjadi barometer pertama bagi publik tentang kinerja ISC dan Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) yang dipimpin oleh Faisal Basri
"Saat ini, ISC-pertamina dipimpin Daniel Purba tidak ada keterbukaan terkait
volume crude oil yang hendak diimpor, siapa peserta tendernya, mekanisme dan apa saja syarat yang ditentukan," tegasnya.
volume crude oil yang hendak diimpor, siapa peserta tendernya, mekanisme dan apa saja syarat yang ditentukan," tegasnya.
Dikatakan Ferdinand, jika ISC-Pertamina masih tertutup seperti ini, artinya tidak ada perubahan sama sekali menjadi bukti sah bahwa selama ini tim RTKM Faisal Basri hanya memindahkan tempat bermain mafia. Tim RTKM hanya melakukan pergantian mafia minyak dari mafia di Petral-PES ke mafia di ISC.
"Daniel Purba sebagai VP ISC Pertamina harusnya membuka semuanya ke publik, jangan ditutupi supaya publik bisa ikut mengawasi," katanya.
source:TRIBUNNEWS.COM
Langganan:
Postingan (Atom)