Senin, 02 Maret 2015

Anggota Komisi VII DPR Minta ISC Pertamina Jelaskan Tender Impor Minyak 4 Juta Barel

JAKARTA – Lelang tender perdana untuk pengadaan crude oil yang dilakukan Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina sejak sembilan hari lalu ditengarai sudah ada pemenangnya. Namun yang disayangkan berbagai pihak, ISC-Pertamina enggan mengumumkan pemenang tender tersebut.
Tender pengadaan minyak itu sendiri diketahui untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri periode April 2015. Setidaknya ada dua jenis minyak mentah sebanyak empat juta barel yang ditenderkan ISC-Pertamina, yakni minyak dari Azuri dan Qua Iboe-Nigeria.
Menanggapi hal tersebut, anggota Komisi VII DPR RI Satya Widya Yudha meminta ISC-Pertamina menjelaskan secara rinci dan transparan proses tender tersebut, untuk menepis adanya kepentingan tender titipan.
"ISC Pertamina mesti transparan memberikan keterangan publik terkait proses tender minyak mentah itu. Mengingat isu ini adalah isu yang sangat sensitif dan berpotensi menggerus keuangan negara yang sangat besar," kata Satya Widya Yudha dalam keterangannya, Sabtu (31/1/2015).
Menurutnya, semangat transparansi yang juga direkomendasikan Tim Reformasi Tata Kelola Migas (TRTKM) terhadap pengelolaan di sektor migas harus dikedepankan. Sehingga publik bisa ikut mengawasinya, termasuk terhadap jalannya tender minyak itu.
Hal tersebut kata Satya selaras pula dengan janji transparansi yang pernah disampaikan Menteri ESDM Sudirman Said, dan Dirut Pertamina Dwi Soetjipto.
"ISC Pertamina di bawah pimpinan Daniel Purba sudah seharusnya mengumumkan kepada publik terkait bagaimana mekanisme tender minyak mentah, berapa jumlahnya, bagaimana teknisnya," kata Satya.

source:TRIBUNNEWS.COM

Minggu, 01 Maret 2015

Proses Tender Perdana, ISC Pertamina Diminta Berikan Tanggung Jawab Publik

JAKARTA – Pengamat energi dari Reforminer Komiadi Notonegoro, mempertanyakan proses tender perdana 'Crude Oil' ISC-Pertamina yang terkesan dilakukan secara tertutup dan tidak transparan.
"Semangatnya harus terbuka. Bukan hanya kepada Petral dan NOC lainya, kepada publik juga harus terbuka," kata Komaidi saat dihubungi wartawan, Minggu (1/2/2015).
Menurutnya, jika keadaannya seperti itu maka kinerja ISC-Pertamina tidak lebih baik dari Petral. Menurutnya, Petral bisa lebih terbuka saat melakukan proses tender. Untuk itu dirinya meminta ISC-Pertamina melakukan tender terbuka, maka harus diumumkan di media atau paling tidak ada website online yang menyebutkan mereka punya kerjaan dengan spesifikasi yang lengkap.
Diketahui, proses tender perdana 'Crude Oil' ISC-Pertaminadibawah pimpinan Daniel Purba yang dilakukan pada 27 Januari lalu. Tender pengadaan minyak itu sendiri diketahui untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri periode April 2015. Setidaknya ada dua jenis minyak mentah sebanyak empat juta barel yang ditenderkan ISC-Pertamina, yakni minyak dari Azeri-Azerbaijan dan Qua Iboe/bonny light-Nigeria, informasi yang beredar ada peserta tender yang bukan NOC dimenangkan meskipun tidak memiliki penawaran terendah.
Hal ini sangat jauh Rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) pimpinan Faisal Basri yang menekankan transparansi dalam reformasi migas dianggap tidak menyentuh esensi permasalahan tata kelola minyak dan gas bumi Indonesia.
Lebih lanjut dikatakan Komaidi, rekomendasi yang diajukan Faisal Basri Cs masih bersifat makro dan tidak memiliki usulan-usulan yang dirinci secara jelas.
"Seharusnya rekomendasi Tim RTKM bersifat teknis. Saya kira apa yang diajukan tim tersebut hanya replika saja," lanjutnya.
Selain itu, lanjutnya, anggota Tim RTKM sendiri dinilai tidak paham dengan permasalahan utama terhadap pengelolaan sumber daya yang seharusnya menguntukan bagi rakyat Indonesia.
"Kalau di bidangnya masing-masing mereka (anggota Tim RTKM) memang kompeten. Tapi, saya kira mereka perlu belajar lagi," tandasnya.

source:TRIBUNNEWS.COM

Pengadaan Minyak dan BBM Beralih, KPK Ditempatkan di ISC?


Tim Reformasi Tata Kelola Migas, menepis anggapan pengalihan fungsi pengadaan minyak dan BBM untuk dalam negeri, dari Pertamina Energy Trading Limited (Petral) ke Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina, sama dengan memindahkan masalah Petral ke ISC. Dengan beralihnya fungsi pengadaan minyak dan BBM ke ISC, pengawasannya bisa lebih leluasa dilakukan.

"ISC melakukan proses perencanaannya macam-macam. Lalu, ISC ada trading room-nya. Di sana bisa ditempatkan KPK untuk mengawasi periode awal-awal," kata Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas, Faisal Basri, di Jakarta, Selasa 30 Desember 2014.

Faisal mengatakan dengan adanya keberadaan komisi antirasuah itu, pengawasan proses pengadaan minyak dan BBM untuk dalam negeri, bisa lebih terjamin. "Kalau di ISC, kami bisa mengawasi seksama. KPK bisa masuk," kata dia.

Kalau fungsinya tetap berada di tangan Petral yang ada di Singapura, Faisal mengatakan pengawasannya sulit dilakukan. Pasalnya, mereka pernah kena "semprit" dari Singapura.
"Penegak hukum kita beberapa kali disemprit Singapura karena melanggar yurisdiksi karena tidak leluasa memeriksa objek yang beraktivitas di Singapura," kata dia.

Selain itu, audit pengadaan minyak dan BBM akan lebih mudah dilakukan kepada ISC. Misalnya, audit keuangan dan investigasi kalau terjadi suatu indikasi. "Kalau di Petral, audit biasa, seperti audit BPK. Kalau audit investigasi, belum pernah dilakukan," kata dia.
source:VIVAnews 

ISC Pertamina mulai tender minyak mentah

Jakarta - Unit Intregated Supply Chain (ISC) PT Pertamina (Persero) mulai menenderkan minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan kilang pengolahan.

Vice President ISC Pertamina Daniel Syahputra Purba di Jakarta, Selasa, mengatakan, tender minyak mentah tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kilang pengolahan pada April 2015. 

"Kami sudah mulai lakukan tender," katanya.

Menurut dia, perusahaan telah mengumumkan pelaksanaan tender tersebut pada Kamis (22/1) namun ia tidak ingat volume minyak mentah yang ditenderkan.

"Kami akan evaluasi penawaran yang masuk," ujarnya.

Tender lanjutan, ia menjelaskan, akan tergantung pada kebutuhan Direktorat Pengolahan akan minyak mentah dan kebutuhan Direktorat Pemasaran akan bahan bakar minyak (BBM).

Daniel mengatakan perusahaan menyeleksi peserta tender secara ketat. "Kami menjaga integritas dan transparansi," katanya.

Sesuai rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas, ISC membuka kesempatan kepada semua pihak termasuk pedagang yang kredibel untuk ikut tender.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said saat rapat kerja dengan Komisi VII DPR pada Senin (26/1) malam mengatakan, Pertamina akan menyeleksi secara ketat kelayakan pemasok minyak mentah dan BBM dengan jasa pihak independen.

"Dulu, waktu jaman saya, pernah akan meregistrasi ulang dan melakukan due dilligence atas kelayakan vendor. Namun, keburu diganti," katanya.

Sudirman tercatat pernah menjabat VP ISC selama enam bulan mulai September 2008 hingga Maret 2009.

Tim Reformasi Tata Kelola Migas Kementerian ESDM merekomendasikan pengalihan peran tender impor minyak mentah dan BBM dari Pertamina Energy Trading Limited (Petral) ke ISC Pertamina.

Selama ini, Petral melakukan impor BBM sebanyak 8-10 juta barel per bulan dan minyak mentah 10 juta barel/bulan untuk kebutuhan Pertamina. 

Tim juga merekomendasikan perombakan manajemen ISC.

Sejak 30 Desember 2014, Pertamina menunjuk Daniel yang juga salah satu Anggota Tim Reformasi Tata Kelola Migas sebagai Vice President ISC Pertamina.

source:(ANTARA News) 

ISC Pertamina Diminta Terbuka soal Tender Minyak Mentah


JAKARTA,- Tender minyak mentah (crude oil) yang pertama kali dilakukan oleh Intagrated Supply Chain (ISC) Pertamina, prosesnya terkesan sangat tertutup.

Menurut pengamat migas dari Energi Watch Ferdinand Hutahaen, tender itu telah menghasilkan pemenang tender, yaitu Socar untuk minyak mentah Azeri sebesar 2 juta barel dan Vitol untuk  minyak mentah Nigeria sebesar 2 juta barel.

Dia bilang, proses tender terbuka dan transparan seperti yang dijanjikan oleh Tim Reformasi Tata Kelola Migas dan ISC sepertinya tidak terjadi. Publik sangat sulit mengawasi proses ini, bahkan anggota DPR dan DPD RI bersuara keras agar ISC membuka ke publik tentang proses tender yang sudah dilakukan.

"Siapa peserta tender, syaratnya apa, spek-nya seperti apa, tata caranya bagaimana, tender terbuka atau tertutup, semua serba tidak jelas, tidak ada transparansi dalam proses ini. Bahkan kabarnya ISC telah memenangkan peserta tender yang harganya lebih mahal 6 sen dolar/barel dari penawar dibawahnya. Ini aneh bagi kami, kenapa penawar yang harganya lebih tinggi bisa dimenangkan," ujar Ferdinand kepada Kontan, Senin (2/2/2015). 

Dia pun meminta agar KPK segera turun ke ISC Pertamina. Tender ini, kata dia  harus segera diperiksa secara detil, ISC tidak boleh sembunyi dibalik software untuk menetapkan pemenang tender.

"Jangan menggunakan software yang sudah dimanipulasi untuk proses tender crude ini. Kapan bangsa ini akan bebas dari kejahatan mafia migas jika masih saja proses tender terus tertutup dan aneh? Jika penawar yang lebih mahal dimenangkan, itu artinya akan ada potensi kerugian negara, ini harus diperiksa," tegas dia.

Ia meminta kepada Menteri  ESDM Sudirman Said, Dirut Pertamina Dwi Sucipto dan Tim Reformasi Tata Kelola Migas  Faisal Basri agar segera memeriksa proses ini. "Semua tender crude oil harus transparan, bebas dari mafia dan pola pengadaannya harus dirubah demi bangsa dan negara," ujarnya.

source: KOMPAS.com

Ini Pemenang Tender ISC Pertamina


Integrated Supply Chain (ISC) PT Pertamina mulai menggelar tender pengadaan minyak mentah pada pertengahan Januari 2015. Tender ini dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan April 2015.
Vice President ISC Daniel Syahputra Purba, Selasa 17 Februari 2015, mengatakan bahwa dalam waktu tiga pekan untuk mengeksekusi kegiatan pengadaan migas, Pertamina sudah melaksanakan tender minyak mentah.

"Tanggal 22 Januari adalah tender pertama kami untuk pengiriman April 2015," ujar Daniel di Jakarta.
Ia menambahkan, ada dua tender minyak yang dilakukan oleh ISC.Pertama, pengadaan medium crude oil sebanyak 2x600 juta barel danheavy crude oil sebanyak 2x950 juta barel. ISC mengundang 62 perusahaan mitra dari berbagai negara seperti Singapura, Taiwan, dan Korea.
Sebanyak 62 perusahaan itu terdiri atas 20 perusahaan migas nasional, 15 perusahaan mitra usaha, dan 27 perusahaan trader.

"Kami mengundang seluruh pemain dan produsen minyak mentah untuk suplai ke Pertamina," kata Daniel.
Pertamina akhirnya memutuskan dua perusahaan untuk memasok minyak mentah, yaitu Vitol untuk memasok medium crude oil dan Alzerbaijan untuk memasok heavy crude oil.

Kedua, 
pengadaan Pertamax untuk kebutuhan Februari 2015 sebanyak 140 juta barel. Penawaran dimulai pada 28 Januari 2015 dan ditutup 30 Januari 2015. ISC mengundang 107 perusahaan untuk mengikuti tender tersebut.
Pertamina memutuskan hanya satu perusahaan untuk memasok Pertamax. "Yang menang Unipex, yaitu anak usaha perusahaan migas Tiongkok, Sinopec, yang punya refinery," kata Daniel.
source:VIVA.co.id

Tender Pengadaan Minyak Pertamina Tak Lagi di Singapura


Jakarta - Secara bertahap, PT Pertamina (Persero) telah menjalankan transparansi tata kelola perusahaan sesuai dengan rekomendasi yang diberikan oleh Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas (Migas). Terbaru, Pertamina melakukan transparansi dalam pengadaan minyak mentah dan produk kilang setelah mengalihkan tugas dari Pertamina Energy Trading (Petral) Ltd  kepada Integrated Supply Chain (ISC), unit usaha Pertamina yang akan menjalankan tugas tender minyak.

Vice President ISC Pertamina, Daniel Purba mengatakan, setelah ISC ditugaskan untuk melakukan pengadaan minyak mentah dan produk kilang antara lain Premium, Solar, Avtur dan Pertamax CS sejak 1 Januari 2015, mereka telah melakukan tender pengadaan di dalam negeri.

Menurut Daniel dengan mengadakan tender di dalam negeri maka publik bisa memantau. Sebelumnya atau saat proses pengadaan minyak masih dipegang Petral, tender dilakukan di Singapura sehingga tidak terpantau. Pengadaan tender di Singapura karena memang perusahaan tersebut berkedudukan di sana. 

"Kami sudah bisa melakukan proses tender di Jakata, tepatnya di kantor Pertamina," kata Daniel, di Jakarta, Selasa (17/2/2015).

Menurut Daniel, dengan dilakukannya tender pengadaan dalam wilayah hukum Indonesia, maka akan tercipta transaparansi, karena proses tender dapat diketahui oleh berbagai pihak.

"Dengan dilakukan di wilayah hukum Indonesia akan mempermudah accountability proses tender yang ada, sehingga lebih transparan," tuturnya.

Daniel menambahkan, ISC saat ini telah membentuk tim tender untuk memastikan proses tender sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan pemerintah maupun Pertamina.

"Dalam melakukan tender kita bentuk tim antar fungsi, dalam melakukan kami ada aturan supaya government clean dan transparan sesuai dengan aturan di Pertamina," pungkasnya.

Sebelumnya, Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas bumi (migas) merekomendasikan untuk menata ulang seluruh proses dan kewenangan penjualan dan pengadaan minyak mentah. Tender penjualan dan pengadaan impor minyak mentah tidak lagi oleh Petral melainkan dilakukan oleh divisi Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina.

"Petral dapat menjadi salah satu peserta lelang pengadaan dan penjualan minyak mentah dan BBM yang dilakukan oleh ISC, " kata Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri. 

Faisal melanjutkan, tender penjualan dan pengadaan minyak mentah dan BBM dilakukan di Indonesia yang dilaksanakan oleh ISC Pertamina sehingga tunduk sepenuhnya pada hukum dan perundang-undangan berlaku, dengan begitu dapat menjalankan fungsinya secara optimal.

"Penegak hukum kita disemprit pemerintah Singapura melanggar kedaulatan yuridiksi Singapura karena tidak leluasa memeriksa objek yang berada di Singapura," ungkapnya. 

source:Liputan6.com